Friday, 15 April 2011

Zero Gravity

On Thursday, April 14, Niko, Dimas and I conducted a photography experiment. Honestly, we were inspired by a conceptual photography featured in one of famous design magazine. We did it in our classroom while waiting for the lecturer coming.
Maybe our work is not that fascinating and well-conceptualized like one in the magazine.
Yet, enjoy ours =)




The Moment of Falling

------------------------------------------------------------------------------------------




Maximum Balance

------------------------------------------------------------------------------------------



Indifferent

------------------------------------------------------------------------------------------




Hands can stand
------------------------------------------------------------------------------------------

[april fifteenth | six-fourteen-post meridiem | citra]

Sunday, 10 April 2011

rindu ini orgasmik
indah dalam marah
sebentar-sebentar curi-curi pandang ke arah telepon genggam
seperti takut ketahuan sedang bercumbu di ruang tamu
maaf, tadi aku emosi
sekarang sudah tidak
maaf
eh
lagi?

kamu sudah tidur ya?
boleh mampir sebentar ke mimpimu?
aku ingin jadi teman holografikmu
saat kamu bangun
aku akan menguap
seperti asap

seperti mobil travelmu yang melaju menunju bandung pada hari minggu
senin akan membawaku padamu

----------------------------------------------------------------------------------------
*sambil bersyukur pada Tuhan dan pembajakan, malam ini aku dan rindu diiringi Sigur Ros*

[Sepuluh April lebih 45 menit]

Saturday, 9 April 2011

aku mengajakmu menari Irish Dance
tapi yang kau mau Waltz

aku ajak kau ke moshpit
tapi kau malah ke dancefloor

aku membeli DVD untuk ditonton berdua
tapi yang kau nyalakan malah televisi

aku membelikanmu indomie
tapi kau sedang melahap spaghetti

aku merekomendasi Frau dan Tika
tapi kau lebih suka Top 40

kalau kebersamaan hanya mengedepankan soal sama selera
kita tidak akan disini sambil tertawa menikmati apa yang kita suka
yang terpenting
aku senang, kamu tidak ikut-ikutan

morning epic post

There are very many things
I would like to say to you,
But i've lost my way
And I've lost my words.

There are very many places
I would like to go
But I can't find the key
To open my door.

The weight of my words-
You can't feel it anymore

There are very many ways

I would like to break the spell
You've cast upon me.
Because all the time
I sacrificed myself
To make you want me,
Has made you haunt me.

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Seni dan Sastra itu keren. Sering sekali ketika saya sulit mendeskripsi perasaan, saya menemukan refleksi apa yang saya rasa pada karya seni atau karya sastra tertentu. Misalnya pada lagu. Iya, lirik lagu diatas itu milik Kings of Convenience dari lagunya yang berjudul The Weight of My Words pada album debutnya yang dirilis tahun 2001 yang bertitel Quiet is the New Loud.

Saya memang kurang pandai dalam menetaskan, memenej, mengaransemen, dan mengonversi ide di kepala saya dalam bentuk tulisan yang terpadu. Ide dalam tulisan saya kebanyakan lompat kesana-kemari seperti kehilangan arah dan tidak terfokus pada masalah. Alurnya tidak terlalu jelas, kadang maju, kadang mundur. Karena mungkin cara berpikir saya yang kurang merunut, tidak terurut. Makanya nilai esay saya jelek terus.

Pagi ini saya berpikir keras untuk menginterpretasi perasaan saya. Saya berusaha sekuat tenaga menranskripsi perasaan agar dapat menjadi ide yang kemudian bisa saya buat menjadi tulisan. Apapun formatnya.

Namun,
Jika perasaan adalah telur dan ide adalah sesuatu yang menetas dari dalamnya, maka apapun yang saya tetaskan akan cacat.
Jika perasaan itu uap air, dan ide itu es, maka saya tidak pernah berhasil menyublim perasaan saya.

Maka dari itu saya suka sekali seni dan sastra.
Mereka merepresentasikan bentuk penyubliman yang sempurna.

Dan lirik lagu ini, sudah cukup memuat perasaan saya terhadap kamu.

Maaf, saya tidak dapat menginventasi kata-kata sendiri, karena seperti yang Erlend atau Eirik (saya tidak yakin siapa diantara mereka yang menulis lirik ini) bilang:

The weight of my words / You can't feel it anymore

***

Mungkin juga saya terlalu terkonsumsi oleh teori Jatuh Cinta itu Biasa Saja.
Lucu bagaimana suatu karya dapat membentuk pola pikir penikmatnya. Itukah katarsis?
Tapi, saya percaya memang (seharusnya) cinta itu biasa saja.

Kita berdua hanya saling bercerita / Tak perlu memuji

...

Kita berdua tak pernah ucapkan maaf / Tapi saling mengerti

...

Ketika rindu, menggebu-gebu, kita menunggu / Jatuh cinta itu biasa saja

...

Saat cemburu yang membelenggu / Cepat berlalu

Jatuh cinta itu biasa saja

***

Malam tadi saya tidur sambil memeluk resah, pagi ini dia masih di sana, di samping saya.
Tidak heran, tapi, kamu di mana, Monyet?
Pagi ini saya mengguncang resah, sambil gelisah bertanya-tanya padanya:

Monyet gue kemana?
Gue ga liat dia di mimpi gue tadi malem
Gue ga denger suaranya di kepala gue

Monyet gue kemana?
Gue butuh dia
Gue lupa caranya ketawa
Cuma dia yang bisa

Monyet gue kemana?
Gue kangen dia
Dia ga ada
Dia ilang
Dia kerasa jauh

Monyet gue kemana?
Lo tau ga?

Satu respon:

Dia kecewa.

***

I don't really believe in 'boyfriend / girlfriend' theory. The term 'in relationship' is too mystifying. I think when two person love each other, there should be only trust, that's all. Trust creates loyalty and consistency, and for God's sake, that's the best a person could get from the beloved.

Yesterday, I broke that trust. I'm in grief now, drowning in the sea of guilt, desperately choking for breath. You know how it feels when you broke a promise and made somebody disappointed.

At least, eventhough I've lost your trust for me , you still have my loyalty, yet my consistency is at stake. If you want to go away, then go ahead, there's another 2 years I'll take to forget.
Too bad, for you, I haven't give up yet.

***

Gue ga maksud mau nandingin panjangnya Beowulf, tapi pikiran gue yang menjejali kepala ini bener-bener harus ditumpahkan, ditumpahkan, bukan lagi dituangkan yang memiliki sense of sedikit-sedikit, teratur, dan bertakar. Ini tumpah yang berarti tidak berarturan, banyak, tiba-tiba, dan tidak disengaja.
Gue butuh distraksi hari ini.
Hal seperti ini bikin gue ngerasa, Tuhan sedang cemburu karena gue lebih sayang sama makhluknya ketimbang Dia.

Tuhan, maaf, karena sekarang gue bikin dia kecewa.
Jangan bilang Kamu juga.
Jangan.

Friday, 8 April 2011

tamu

Malam ini aku kedatangan tamu
Namanya sebut saja Gulana
Sudah lama dia tidak berkunjung ke rumah
Dan malam ini, aku dan dia sepertinya akan bercinta

Sedikit tentang Gulana:
Aku sudah lama bersahabat dengannya
Aku suka dia karena namanya berunsur manis
'Gula'
Begitulah aku menyebutnya
Wujudnya beragam
Ia senang menyamar
Namun waktu kedatangannya selalu sama
Ia senang berkunjung saat malam
Saat aku enggan terpejam

Dan pada malam ini ternyata dia hadir
Kamipun mulai berbincang dalam keintiman yang mengikat
Ia bertanya padaku perihal Cinta
'Apa kabarnya?' katanya
Jawabanku masih selalu sama
'Maaf, Gula, aku masih belum tahu kabar dia,'
Tapi menurutku, Gulana tahu
Dia sendiri adalah bagian dari Cinta
Aku bahkan tahu Gulana karena Cinta yang mengenalkannya padaku
Cinta yang bercerita lebih banyak tentang Gulana
Anehnya, dengan Gulanalah aku lebih akrab

Gara-gara Gulana ungkit Cinta, aku jadi penasaran
Kemana ya dia?
Tapi, ah, biar
Malam ini aku ingin berdua saja dengan Gulana
Dengan dia dan tangannya mendekap aku
Merabai aku
Dengan dia dan cumbunya yang panas penuh resah
Dan aku merasakannya, dia menyetubuhi aku

Dengan Gulana, malam ini akan aku capai puncak elegi

*Setelah itu, betapa aku rindu pada si manis Katarsis