Showing posts with label superficial contemplation. Show all posts
Showing posts with label superficial contemplation. Show all posts

Saturday, 12 May 2012

Journal Entry #1: On Writing



Well, it takes a lot of effort to feel good, doesn't it? Even one single tweet posted in trashy world of Twitter can get you sooo down low low brow joooow ha ha ha haa... But to lighten up? You'll need a bunch of guts.
Really, feeling good is a choice. It is definitely a choice. You can either let yourself drowned in the quicksand of your own head-made insecurity, or you can just stop giving a fuck and carry on.
In my case, I choose carrying on and getting over trivial things that are not worth thinking. So, I channel my energy to other things that bring me benefits.

Like writing...

Writing is a really good therapy. I feel my writing is getting evolved. It gets better from time to time. Writing journal and blogs like this really helps. I know it's a good idea to write, even for a damn crap like this. It's nice to pour all of my thought into writing and I can feel less stressed.

Writing helps me remember. I read it somewhere that you cannot rely on your memory, you have to write it down. Right. Writing is just like a photograph. It instills the present moments in a camera called language.

Writing helps me grow. I can evaluate my previous writing pieces and make a better one in the future.

Last but not least... Writing helps me feel good.

Tuesday, 1 May 2012

Telepon Genggam dan Buku


Tika dan Tiwi pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. Setelah memesan makanan, mereka sama-sama punya satu waktu senggang bersamaan, yaitu menunggu makanan terhidang. Karena intensitas pertemuan mereka yang besar, terkadang mereka kehabisan topik untuk dibicarakan. Daripada berdiam, mereka pun mulai menyibukkan diri, sekedar mengalihkan perhatian.

Adalah normal melewati kesenggangan itu dengan memegang, mengoprasikan, atau memilin-milin telepon genggam. Kebanyakan orang seperti itu. Itulah yang Tika bilang normal.

Dan Tika tertawa melihat Tiwi mengeluarkan buku dan membacanya, sedang Tika sendiri membaca dan mengetik sms yang isinya memberitahu pacarnya bahwa ia sedang makan siang.

Respon Tika ketika menyadari bahwa temannya tengah membaca adalah: “Cieee, baca buku. Simpen dulu ih, masa mau makan baca?” Seolah-olah bagi Tika, membaca bukan hal yang normal. Tidak jika sambil menunggu makanan.

Tiwi mendongak menatap Tika yang barusan bicara dan sekarang asyik lagi dengan telepon genggamnya, maka ia pun memilih diam saja dan kembali ke bacaannya. Ia juga merasa bahwa membaca buku tidak cocok dalam waktu-waktu seperti ini. Jika saja telepon genggamnya tidak tertinggal di rumah, pasti saat ini ia juga sedang asyik mengobrol lewat sms dan mengabaikan Tika, seperti Tika mengabaikannya sekarang. Tapi kenapa Tika berkata seperti itu? Memangnya kenapa dengan membaca buku? Apa bedanya jika kegiatan paling dasar yang mereka lakukan sebenarnya adalah membaca?

Tika masih asyik dengan telepon genggamnya, dan Tiwi, yang enggan kelihatan bengong karena tidak mengoprasikan apa-apa, masih memegang buku, pura-pura membaca, tapi padahal berpikir:
Apa bedanya kalau saat itu yang mereka butuhkan adalah komunikasi dan informasi?
Apa bedanya kalau saat itu mereka sama-sama tidak di sana?
Apa bedanya kalau sebenarnya mereka sejenak lari dari realita menunggu makanan?

Bagi Tika dengan telepon genggamnya yang keberadaannya normal dalam ritual meja makan formal maupun nonformal.

Dan Tiwi dengan bukunya, yang bagi Tika selamanya akan absurd ada di tengah-tengah jeda waktu sebelum makanan sampai ke meja, apapun bentuk situasinya.

Friday, 27 April 2012

"The idea of waiting for something makes it more exciting"
Andy Warhol

Saya rasa Andy benar.
Memang menunggu itu menyebalkan, tapi tidak selamanya, kan?

Apa yang lebih bergairah dari perasaan resah menunggu Pak Pos mengirim surat kelulusan SMA ke rumah? Daripada terburu-buru beli koran untuk tahu kau lulus atau tidak.

Betapa menyenangkannya bersabar di sepanjang jalan menuju rumah untuk memberi tahu Ibu bahwa UAS tadi kau kerjakan dengan lancar, betapa tidak ternilainya perasaan menyampaikan itu dengan langsung bertatap muka dengan beliau. Daripada hanya sekedar tulisan yang kata-katanya disingkat melalui pesan selular.

Betapa menyenangkannya ketidaksabaran menunggu hari untuk bertemu teman lama, untuk sekedar mengobrol apa yang terjadi saat kau tidak bersama, mendengar suaranya, melihat senyum lebarnya, menyadari garis-garis kerut bertambah pada keningnya saat ia mengernyit, dan menghabiskan 15 ribu untuk kopi dan camilan yang tak ada apa-apanya dibanding kehangatan rindu yang lebur karena temu. Tidak sebanding dengan berbincang via aplikasi obrol elektronik dengan pergi ke warnet yang dapat dilakukan kapanpun kita mau.

Betapa menyenangkannya bersabar menempuh puluhan kilometer menggunakan transportasi umum demi bertemu si dia, ia tahu kau akan mendatanginya dan ia menunggu dalam ketidakpastian tentang sudah berangkatkah kau, kapan kau tiba; yang ia tahu hanyalah kepastian bahwa kau akan datang. Dan ketukan yang kau buat pada pintunya, masih membuatnya tidak menyangka itu kau. Dan betapa tidak ternilainya ekspresi terkejut campur bahagia yang terpancar dari parasnya ketika melihat kau.

Kadang hidup mendadak menjadi ultra-cepat, hingga kita menjadi makhluk yang terburu-buru.
Kita jadi cepat bosan karena segalanya juga sudah segala cepat.
Kadang-kadang kita tidak menolerir jeda, karena jeda harus diisi dengan komunikasi yang juga harus ekstra cepat.

Informasi ini dengan cepat disusul informasi itu. Datang, lewat, lupa.
Dan kita sekuat tenaga tidak mau tertinggal.

Friday, 25 March 2011

Kamu tidak tahu saja, kalau kamu itu ada, dan bermakna

Kamu punya teori sendiri tentang 'serius'.
Kamu kurang lebih bilang: kalau aku merasa senang karena dia, dan merasa galau juga karena dia, itu tandanya aku serius. Kalau kamu mau aku tidak gundah karena kamu lagi, aku bisa, dan itu berarti aku tidak serius dengan kamu.

Saya baru tahu kalau ada teori semacam itu. Maksud saya, dalam bentuk bahasa. Saya tahu, menyayangi seseorang itu beresiko; senang dan galau. Dan saya pernah merasakan senang dan galau yang diakibatkan dari menyayangi seseorang. Namun, pengalaman terlalu menggundahkan saya, yang saya tahu, menyayangi seseorang itu seharusnya menyenangkan, bukan mengkhawatirkan.

Dan itu yang saya rasa terhadap kamu, saat saya tahu saya menyukai kamu. Saya senang. Saya senang karena saya kemudian mampu menyayangi kamu. Mampu lagi setelah sekian lama hati saya beku.

Kamu pun tahu kan, aku senang bersama kamu. Aku bilang.

Tapi sungguhpun, selain merasa senang, aku juga kerap merasa galau, karena kamu.
Kadang aku cemburu, kadang aku pilu.
Aku tidak bilang, aku tidak ingin kamu tahu.

Karena saat kapanpun, baik senang, maupun galau, yang saya cari itu kamu.

Tapi kenapa masih saja kamu tidak bisa memaknai kehadiran kamu untuk saya?
Kenapa masih saja menganggap bahwa kamu bukan apa-apa buat saya?
Apa karena sikap saya?
Apa karena perkataan saya?

Bila menyayangi seseorang itu butuh pembuktian, maka carilah alasan. Jangan tanya saya. Menyayangimu itu perlu lebih dari sekedar alasan yang logis.
Kamu mau tahu arti cinta? Lihat saja kamus. Jangan tanya saya.
Definisi cinta buat saya bukan berupa bahasa, bukan pula kata.

Hanya rasa. Rasa ini, segala getar, segala resah, segala bahagia, yang saya punya untuk kamu.
Kamu bisa buat saya jadi cinta, itu karena kamu punya makna.
Kamu punya makna sendiri.
Dan saya juga punya makna tentang kamu. Kamu saja yang tidak tahu.