Thursday, 30 June 2011

Doa Seorang Babu Kalau Sedang Pundung

kudoakan kau tidur nyenyak di atas kasurmu yang bersepraikan sutra
dalam piyamamu yang seharga dengan diriku selama tiga minggu

kudoakan kau makan enak dengan menu yang bukan dari negerimu
dan kudoakan kau bangga akan itu karena tahu aku makan makanan buatanku sisa kemarin malam yang tidak kau habiskan

kudoakan kau merasa aman dalam rumahmu yang teduh dan megah
kudoakan kulitmu terlindungi dari ultraviolet
terawat dan tidak seperti punyaku yang terbakar tiap hari mengeruk sampah rumah tanggamu

kudoakan kau selamat dengan mengendarai mesin beroda empat itu
yang tiap hari mengkilat karena kau suruh aku yang menyikat

kudoakan tuhan menyayangimu karena kau kerumahnya setahun sekali
dan pulang membagi-bagikan buah tangan pada kerabatmu, bukan aku

kudoakan kau masuk surga

wahai engkau, aku menyembahmu
dan berharap suatu hari nanti
saat kau tidur kudapat menikammu dengan pisau dapur
dan kau makan makanan yang telah aku tabur racun
rumahmu runtuh dan tuhanmu mempersilakanmu ke neraka
bersamaku

-----------------------------------------------------------------------------------------
rindu ini drives me kreji, sayang
[eh, tigapuluh juni, pukul setengah empat pagi oleh citra]

Monday, 20 June 2011

Details in the Room

come up to meet you
tell you i'm sorry
you don't know how lovely you are


i had to find you
tell you i need you
tell you i set you apart


tell me your secrets
and ask me your question
oh, let's go back to the start




runnin' in circle
comin' our tails
heads on the science apart



nobody said it was easy

------------------------------------------------------------------------------------
*words are taken from: Coldplay - The Scientist*

[june twentyfirst zero five am by citra]

Sunday, 19 June 2011

If there's a man who will forever stay
and never get me hurt
a man
whose love is never going to end

I'm sure
he's
you,
Daddy.

You're my Prince Charming
You're my Superman
You're my Mr. Incredible

You
are
the
greatest
daddy
a daughter
has ever had

Happy Birthday



'k2 selalu ga sabar untuk bikin ayah bangga'

Fathers, be good to your daughters
Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers
So mothers, be good to your daughters too*

------------------------------------------------------------------------------------
*Mayer, J. (2003). "Daughters". On Heavier Things [Record]. Hollywood, CA. Columbia.
[daddy's birthday by citra]

Saturday, 18 June 2011

"God Bless Saturday"

Hmm... Saturday. Some people are just excited when it comes because it means you can go outside, hang or date till midnight and your parents are like: 'Well, it's Saturday night'; some stressed, they got no plan, no friend, no boy/girlfriend and they end up whinning and complaining about it on facebook and twitter. Me? I'm in between. I'm the one who does not believe in what-Saturday-should-like procedure, because I believe Morrissey is right: 'Everyday is like Sunday'. haha.

Well, this is what my Saturday look like:



I find reading is one of enjoyable activity and today, I read Concept. Kinda getting inspired.



Besides, I do the Internet things like social-networking, reading articles, and blogging.



Texting with this person whom I luuuuuuuurrrrrvvv so much. Let's call it 'Text Date'.




And sometimes, I just need to go to the bathroom. haha.

I like this Saturday. I feel so blessed because I do things I like. And, how I love my bedroom now, I have cleaned it, and it is...just...clean =).

So, how's your Saturday, mates?

------------------------------------------------------------------------------------------
*the title was taken from one of my facebook friend's status*
[june eighteenth at four fourtysix by citra]

Aku Rindu

Aku rindu satu hari
di mana
bangun pagi itu mengasyikkan

Aku rindu satu hari
di mana
kucing-kucingan itu lebih seru dari game on-line

Aku rindu satu hari
di mana
pohon-pohon kersen itu belum ditebang
dan bekas rumah mang bacang belum diperlebar
saat lapangan itu masih ada dan kasti adalah permainan yang keren

Aku rindu satu hari
di mana
saat bocah seusiaku di Amerika sudah tahu Graham-Bell
aku masih memainkan kaleng bekas susu kental manis yang dihubungkan dengan seutas benang

Aku rindu satu hari
di mana
aku dan adik laki-lakiku kejar-kejaran berebut sebuah jambu batu yang dicuri dari pohon tetangga samping rumah

Aku rindu satu hari
di mana
pada sore hari sehabis pulang sekolah, ayah mengijinkan aku menjalankan vespanya dari gerbang gempol sampai rumah

Aku rindu satu hari
di mana
aku mengerjakan PR di rumah Rani
dan jam 9 malam itu sudah termasuk dini hari

Aku rindu satu hari
di mana
galau itu adalah ketika tak ada teman untuk bermain Sapintrong

Aku rindu satu hari
di mana
semuanya masih serba timur

Aku rindu.
Dan aku sedih.
Sebab,
rindu ini
selamanya tidak akan pernah tuntas.

Friday, 10 June 2011

The Rise of Karinding

On last Thursday, June 9, I got a job as photographer in a Junior High School Graduation Party, school at which my father teaches. The event was good, there were choirs, drama, and bands. But there was one performance from the graduates that really captivated me. They presented a traditional performance using instrument called Karinding.

Karinding is one of Sundanese music instrument. It is made out of dried Enau or bamboo tree and can produce unique sound. To make it works, you just put it near your mouth, and tap one of its tips with you finger so that its limber part will produce a vibration of sound. The vibration will be held in your mouth cavity which functions as resonator. The way you shape your mouth cavity arranges the vibration into the intended tone. Karinding is usually played along with Celempung and Suling.


Karinding

Celempung


Suling

This traditional instrument from West Java is getting popular but not in a massive way because I have not found it televised yet (I don't know. Have you?). Perhaps, the instrument are known around Bandung and cities nearby. I, myself, have known the instrument since I attended Sarasvati's microgigs several months ago. The gigs featured Karinding Attack, a group which creates music using traditional instrument, mainly karinding.

I'm surely glad that some people are just concerned about our traditional art like Karinding. Not only Karinding Attack, but also some indie bands just begin to include karinding in their music, like Sarasvati in their previous gigs featuring Karinding Attack several times ago, and Katjie & Piering whose music reminds us to Bandung back in '20s (check my review of Katjie & Piering here).

Good news is that we actually have a place where we can learn karinding and other traditional instruments like suling and kecapi. It's in Common Room Bandung. They have a routine agenda including Karinding class with Hendra Attack every Friday at 4 p.m till 7 p.m.

And I just really enjoyed the show of these 15-year-old kids playing karinding, suling and celempung as well as I enjoyed photographing them. As I asked them where they learn it, they said that they learn it by themselves and they're inspired by Karinding Attack.
Here they are some photos I took:

















Oh, and FYI, they also covered "..." (Tiga Titik Hitam) from Burgerkill in the end of the show, but not using karinding, instead, they did full-set (electric guitar, bass, and drum). I like them, but unfortunately, I forgot to ask their names. Haha. My bad.
Well, you do great, kids, just keep going rising our tradition =).

Reference:
http://unordinary-world.blogspot.com/2010/06/karinding-seni-bunyi-penakluk-hati.html

Photo source:
http://3.bp.blogspot.com/_7z0BU-Hhur0/TBL96mUUMYI/AAAAAAAAAgQ/1fh0HBy6fVI/s1600/KARINDING+1.jpg
http://mus431.com/MUS431_Files/instruments/indonesia/suling.jpg
http://1.bp.blogspot.com/_N6BoVXBwwUM/TGTznbDZifI/AAAAAAAAAJ4/XiIkTBievds/s400/celempung-8.jpg

Further info:
Common Room [http://commonroom.info/]
Karinding Attack [http://www.myspace.com/karindingattack]

-----------------------------------------------------------------------------------------------
[june eleventh one twenty two in the morning by citra]

Wednesday, 8 June 2011

Sedikit tentang Komodifikasi

Setiap hari Minggu saya, ayah dan ibu melaksanakan ritual kesehatan yang dinamakan Ke Punclut. Seperti Car Free Day, tiap hari Minggu, Punclut yang berada di kawasan Ciumbuleuit adalah tujuan wisata keluarga. Bedanya, Punclut tidak se-modern Car Free Day; tidak bernuansakan kehidupan urban dengan factory outlet di sepanjang jalannya, tidak ada komunitas sepeda fixie (nulisnya begitu bukan?), tidak ada anak-anak skate board, tidak ada penjual tiket pre-sale, dan tidak ada stand Maicih.
Punclut terkenal dengan kedai-kedai penjual makanan tradisional di puncaknya, dari sana mata kita dimanjakan dengan pemandangan Kota Bandung. Kedai-kedai itulah garis finish untuk saya, ayah dan ibu. Setelah letih berjalan menanjak, seperti biasa kami memesan nasi merah, ayam bakar, tempe, ikan asin, lalap, dan sambal.

Suatu Minggu, beberapa meter sebelum mencapai garis finish, ada satu spanduk yang membuat saya berharap saya tidak pernah membacanya. Spanduk itu bertuliskan "Melihat Pemandangan Bandung. Rp 1.000/orang". Hahaha, saya jadi heran, pihak yang menetapkan harga itu seolah-olah merekalah si pembuat pemandangan. Cukup WC Umum sajalah yang berbayar, masa pemandangan juga?

Fenomena itu, kata Paman Marx dalam bukunya Communist Manifesto, disebut Komodifikasi (Commodification). Komodifikasi adalah suatu proses transformasi suatu barang, jasa, atau ide (yang bukan komersial) menjadi suatu komoditas. Gampangnya, sesuatu yang awalnya tidak termasuk ke dalam area pasar berubah menjadi sesuatu yang komersial; menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan.

Fenomena melihat pemandangan berbayar itu dapat termasuk kedalam contoh komodifikasi yang disebut sebagai privatisasi. Privatisasi menerapkan sistem 'user-pays', dimana, misalnya, kita bayar untuk layanan kesehatan dan pendidikan. Oh Tuhan, bahkan sekarang pemandangan pun menjadi komoditas untuk pihak yang berorientasikan uang. Pemandangan yang awalnya gratis, dilihat oleh kaum pemilik modal sebagai ladang meraup keuntungan. Makanya, untuk menikmati pemandangan di salah satu daerah Punclut, oleh pemilik tempat, kita dikenakan biaya 1000 rupiah.

Saya jadi ingat, waktu itu saya dengan teman-teman main ke daerah Dago, tepatnya di kawasan Stamford International School. Tempat dan pemandangannya bagus untuk berfoto ria. Dua teman saya kebetulan membawa kamera SLR digital sebagai media fotonya. Tujuan kami murni bersenang-senang, bukan untuk keperluan photoshoot cover album band atau foto pre-wedding. Saat berfoto-foto, tiba-tiba kami dihampiri oleh dua orang berseragam yang mengendarai motor trail. Salah satu teman saya ditanya-tanyai. Setelah dua orang berseragam ini pergi, teman saya bilang: KTP gue ditahan, kita harus bayar 15 ribu buat foto-foto di sini. WTF!

Kemarin, saya dan seorang teman saya ke KFC Sukawangi. Kebetulan saat itu KFC jadi tempat istirahat rombongan wisatawan luar kota. Setelah memesan makanan, kami memilih tempat duduk di lantai dua agar bisa merokok. Di seberang tempat kami duduk, seorang mba-mba yang tidak mengenakan seragam KFC menjadi penyedia makanan. Saya asumsikan dia adalah pekerja lepas. Hal itu juga merupakan contoh komodifikasi. Seperti pegawai KFC lainnya, mba-mba itu juga adalah komoditas, ia menjual 'pekerjaan wanitanya' dengan menyiapkan makanan agar mendapat upah.

Contoh komodifikasi lain adalah:
  • Fee paying services, saat orang-orang yang sukarela memadamkan kebakaran berubah menjadi buruh bayaran. (Jadi bertanya-tanya, apa orang-orang berseragam hijau yang mengaku-ngaku dari Greenpeace itu dibayar juga?)
  • Properti intelektual, hak cipta, paten dan harga yang dipasang pada informasi dan pengetahuan dalam cabang ilmu, industri, dan seni.
Menurut Dobie (2009), komodifikasi juga adalah pengaruh kapitalisme pada psikis konsumen yang menilai barang bukan lagi dari kegunaannya (use value), namun dari sign value dan exchange value. Contohnya, menurut pengertian saya, kita membayar bukan karena sepatu itu dipakai untuk menjadi alas kaki, tapi karena sepatu itu ber-merk asli Nike. Kita membayar bukan karena sesuatu itu berguna, namun untuk mengesankan orang lain. Kita membayar sesuatu untuk kita jual lagi dengan harga yang lebih tinggi.

Hmm... mau tidak mau saya jadi berpikir, apa jangan-jangan tujuan saya menuntut ilmu sampai setinggi perguruan tinggi agar kelak setelah lulus, setelah mendapat gelar, saya menjadi komoditas, seperti buruh?
Entahlah... liat ntar. haha.

Sumber dan bacaan lebih lanjut supaya bisa mengoreksi saya kalau-kalau saya salah hehe:
Dobie, Ann B. Theory Into Practice: An Introduction to Literary Criticism. Lafayette: University of Southwestern Lousiana, 2009.
http://www.marxists.org/glossary/terms/c/o.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Commodification

------------------------------------------------------------------------------------------------
*gara-gara baca Dobie*
[bulan juni tanggal sembilan pukul dua empat dua pagi oleh citra]